Kak Dzikri, anak keduaku, adalah seorang anak laki-laki yang selalu penuh kejutan. Kak Dzikri memang anak yang unik, dengan caranya sendiri. Dia juga memiliki kecerdasan yang khas, tertarik dengan segala hal yang berbau teknik, dengan selalu ikut heboh bila ada pekerjaan tukang-menukang atau servis-menyervis.
Kecerdasan verbal atau berbahasa, Kak Dzikri berkembang cukup pesat dengan keistimewaannya sendiri. Pola pikirnya yang kadang masih sangat lugudan polos, seringkali menghasilkan pernyataan maupun pertanyaan yang ajaib!
Dulu, waktu usianya dua tahun, kami mengajaknya mengamati langit malam yang berhias bulan yang tampak keluar masuk awan gelap. Kak Dzikri pun mengumumkan pada kami, ”Bulannya bisa jalan, kan ada rodanya!” Ha ha ha..
Pernah juga suatu ketika, ia mengamati jenggot berambut jarang yang tumbuh di dagu omnya, lalu bercita-cita, ”Kalau sudah besar, aku juga mau minta dibeliin jenggot kayak Om Untung!”
Dan Kak Dzikri kembali memamerkan kebolehannya mengamati lingkugan sekitar, lalu mengaitkannya dengan isi pikirannya sendiri, sepulang dari diajak ayahnya ke bank untuk mentransfer uang. Di bank, Ayah menjelaskan bahwa segepok uang yang ada di tangan Ayah ini, akan Ayah serahkan pada Tante kasir, lalu ketik-ketik, uang lenyap! Dan sebagai gantinya, ayah menerima selembar kertas tipis.
Siang itu sepulang dari bank, ia bertengkar dengan kakaknya. Biasalah, namanya juga anak-anak, selalu saja berperan bagai kucing dan anjing. Perang terus!
Mungkin saking jengkelnya pada sang kakak, Dzikri mengadu pada ayahnya dengan sepenuh perasaan, “Ayah, Teteh nakal banget, sih! Aku sebel! Teteh ditransfer aja ke rumah Nenek, ya Yah!?”

Huaaa... Dzikri lucu juga ya... :)
BalasHapus